Kamis, 31 Agustus 2017

Dirjen PB Apresiasi Budidaya Lele Sistem Biofloc di Tabanan

Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjako (kedua dari kanan) saat melakukan sidak di Tabanan, Bali
TABANAN - Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (Dirjen PB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto memberikan apresiasi positif terhadap perkembangan budidaya ikan lele sistem biofloc di Kabupaten Tabanan, Bali.

Hal itu terungkap saat Direjn PB, Slamet Soebjakto melakukan sidak (Inspeksi mendadak) terhadap proyek percontohan budidaya lele sistem biofloc di Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) "Lele Mandiri Banyupinaruh" di Banjar Kelembang, Desa Rejasa, Kecamatan Penebel, Tabanan, Kamis (31/8/2017)

"Saya datang ke sini secara mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ternyata proyek percontohan budidaya lele sistem biofloc yang diberikan tahun 2016 berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif di masyarakat," katanya berterus-terang.

Terkait hal itu Dirjen Slamet meminta agar budidaya lele sistem bioflok bisa terus dikembangkan oleh kelompok. Ke depan diharapkan budidaya lele sistem biofloc bisa dipadukan dengan budidaya sistem Bumina dan Yumina sehingga ada keterpaduan dengan tanaman buah maupun sayuran.

Menurut Dirjen PB, budidaya ikan lele sistem biofloc akan teras dikembangkan di Indonesia karena budidaya sistem biofloc ini terbukti memiliki sejumlah keunggulan. Selain memberikan FCR rendah, produktivitas lele juga bisa lebih meningkat.

"Perkembangan teknologi biofloc luar biasa. Sekarang akan kita kembangkan terus untuk peningkatan produksi lele sekaligus peningkatan konsumsi ikan dan gizi masyarakat," katanya.

Agar margin keuntungan pembudiaya ikan lele sistem biofloc bisa lebih tinggi lagi, Dirjen Slamet Soebjakto menyarankan agar kelompok juga bisa memproduksi pakan secara mandiri.

Terkait hal itu, Dirjen PB akan berjanji akan memberikan bantuan proyek pengadaan mesin untuk memproduksi pakan mandiri kepada kelompok.

"Tadi kita sudah mendengar sejumlah permasalahan yang dihadapi kelompok. Baik itu masalah pendederan benih dan keterbatasan sarana prasarana pemasaran. Nanti akan kita fasilitasi semoga bisa dicarikan solusi," pungkasnya. (gus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar